Relokasi Pedagang, Harapan dan Kecemasan di Lenteng Agung

 


Dede Suhardi, menata barang dagangannya di lapaknya yang berada di depan Pasar Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Sabtu (20/9/2025). (Foto: dokumentasi pribadi).

JAKARTA – Di sela-sela trotoar yang ramai di kawasan Pasar Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Dede Suhardi (38) duduk bersimpuh. Dikelilingi peti-peti berisi sayuran segar, tangannya dengan telaten menata cabai rawit ke dalam kantong-kantong plastik kecil. Di bawah terik matahari yang mulai menyengat, lapak emperan toko yang menjadi sandaran hidupnya ini adalah dunianya. Namun, di balik rutinitasnya yang tenang, tersimpan sebuah kecemasan yang mendalam.

Sebuah kabar baik bagi sebagian orang, ternyata menjadi sumber kekhawatiran bagi Dede dan ratusan pedagang kecil sepertinya. Rencana besar pemerintah untuk menata kawasan tersebut dengan merelokasi ratusan pedagang dari Pasar Barito ke Pasar Lenteng Agung, justru menebar benih ketidakpastian bagi mereka yang selama ini sudah menggantungkan hidup di sana.

Selama hampir dua tahun, emperan toko di depan sebuah ruko yang masih tutup menjadi ruang kerja Dede. Ia bukan tidak ingin berjualan di dalam pasar yang lebih nyaman dan teduh. Keterbatasan ekonomi adalah tembok yang menghalanginya.

“Benar, Mas, di dalam pasti lebih enak,” ujar Dede saat ditemui Sabtu (20/9) siang. “Tapi mau bagaimana lagi, biayanya tidak cukup. Sewa lapak di dalam itu mahal, belum lagi ada uang kebersihan, uang keamanan. Pendapatan saya ini kan tidak menentu, hanya cukup untuk makan keluarga dan modal belanja besok. Kalau harus bayar sewa, pasti tidak akan tertutup.”

Kisah Dede adalah cerminan dari realitas banyak pedagang informal di Jakarta. Mereka adalah bagian penting dari ekosistem pasar, namun seringkali tak terlihat dalam peta kebijakan formal. Mereka hidup dari hari ke hari, bergeser sedikit saat pemilik toko datang, dan kembali menggelar dagangan saat situasi memungkinkan.

Ketenangan relatif mereka kini terusik. Berita yang dikonfirmasi oleh media massa menjadi perbincangan hangat di antara para pedagang. Portal berita Antaranews.com memastikan bahwa pedagang dari Pasar Barito akan mulai menempati los-los baru di Pasar Lenteng Agung pada akhir bulan September ini. Rencana ini disambut positif oleh pemerintah. Dalam sebuah kesempatan, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, seperti dikutip Megapolitan.Kompas.com, berharap lokasi baru yang strategis karena dekat dengan Stasiun Lenteng Agung ini bisa menjadi tempat yang lebih baik bagi para pedagang Barito.

Namun, di tengah narasi positif tentang penataan dan perbaikan itu, suara Dede Suhardi terdengar lirih dan penuh kekhawatiran. Senyum ramahnya seketika memudar saat ditanya mengenai rencana tersebut.

“Dengar, Mas. Sudah ramai dibicarakan antar pedagang di sini. Terus terang, kami yang di bawah ini jadi cemas,” ungkapnya dengan raut wajah yang serius.

Kecemasan itu beralasan. Kedatangan ratusan pedagang baru, yang ia sebut sebagai "pedagang besar" dengan modal kuat dan pelanggan setia, dilihatnya sebagai ancaman langsung. Ia membayangkan bagaimana pasar akan menjadi jauh lebih kompetitif. Para pedagang baru akan menempati los-los resmi di dalam pasar yang lebih rapi dan nyaman, sebuah kemewahan yang tidak pernah bisa ia nikmati.

“Nah, kami ini bagaimana nasibnya?” tanyanya. “Pasar pasti akan jadi jauh lebih ramai dan saingannya lebih berat. Pelanggan yang biasa beli di saya, mungkin akan lari ke dalam karena di sana lebih lengkap dan lebih bagus tempatnya.”

Bagi Dede, kebijakan ini terasa seperti pedang bermata dua. Niat baik pemerintah untuk menata satu kelompok pedagang, berpotensi besar meminggirkan kelompok pedagang lain yang lebih rentan. Ia merasa keberadaan mereka seolah tidak diperhitungkan dalam rencana besar tersebut.

“Pemerintah mungkin niatnya baik untuk menata pedagang Barito, tapi apa mereka memikirkan kami yang sudah puluhan tahun cari makan di sini?” katanya dengan nada getir. “Kami yang tidak punya lapak ini pasti akan semakin terpinggirkan. Bisa-bisa nanti kami malah diusir oleh petugas karena dianggap mengganggu ketertiban.”

Di tengah ketidakpastian itu, harapan Dede sebenarnya sangat sederhana dan manusiawi. Ia tidak menentang penataan pasar. Ia hanya memohon agar suaranya dan nasib kawan-kawannya didengar sebelum semuanya terlambat.

“Tolong, sebelum memindahkan pedagang dari tempat lain, tata dulu kami yang sudah ada di sini. Beri kami solusi,” pintanya. “Mungkin bisa dibuatkan tempat penampungan yang biayanya terjangkau untuk kami. Jangan sampai kebijakan yang tujuannya baik malah mematikan usaha kami yang sudah susah payah dibangun. Kami ini cuma mau cari makan yang halal, bukan mau macam-macam.”

Kisah Dede Suhardi menjadi pengingat penting bahwa di balik setiap proyek pembangunan dan penataan kota, ada wajah-wajah manusia dengan segala harap dan cemasnya. Kebijakan yang inklusif adalah kebijakan yang tidak hanya melihat angka dan denah, tetapi juga mendengar suara-suara lirih dari emperan toko, dari mereka yang selama ini turut menghidupkan denyut nadi ekonomi kota dalam diam.


0 تعليقات

إرسال تعليق

Post a Comment (0)

أحدث أقدم