Dua perwira TNI, Pak Catur (kiri) dan Pak Suriya K. N. (kanan), berjaga di posko sejarah TNI pada rangkaian acara HUT ke-80 TNI di Monas, Jakarta, Minggu (21/9/2025). (Foto: dokumentasi pribadi).
JAKARTA – Di tengah
gemuruh perayaan HUT ke-80 TNI yang memamerkan deretan alat utama sistem
senjata (alutsista) modern di Lapangan Monas, Jakarta, terdapat sebuah sudut
yang hening namun sarat makna. Sebuah posko sederhana berwarna biru terang
dengan tulisan "Pusat Sejarah TNI: Kenali Sejarahmu Cintai Bangsamu"
menjadi sebuah oase bagi pengunjung yang ingin sejenak kembali ke masa lalu,
menelusuri akar perjuangan bangsa.
Di balik meja penerima tamu, dua
prajurit senior dengan ramah menyambut setiap pengunjung yang datang. Mereka
adalah Sersan Mayor Catur dan Sersan Mayor Suriya, dua penjaga memori yang
bertugas menceritakan kembali kisah-kisah kepahlawanan yang menjadi fondasi
berdirinya Tentara Nasional Indonesia. Di sela-sela kesibukan mereka melayani
pertanyaan pengunjung pada Minggu (21/9), keduanya meluangkan waktu untuk
berbagi cerita tentang arti penting sejarah di tengah modernitas.
Di dalam posko yang tidak terlalu
besar itu, atmosfer perjuangan terasa kental. Sebuah diorama menampilkan patung
Jenderal Sudirman yang tengah duduk, lengkap dengan mantel tebal dan
blangkonnya. Di belakangnya, terpampang foto-foto perjuangan yang menguning
dimakan waktu. Di sisi lain, sebuah meriam tua berwarna hijau lumut berdiri
gagah di atas tumpukan karung goni, seolah menjadi saksi bisu pertempuran di
masa revolusi.
“Di posko sejarah ini kami
menampilkan perjalanan panjang TNI, salah satunya melalui figur besar bangsa,
yaitu Jenderal Sudirman,” buka Sersan Mayor Catur. “Beliau adalah simbol
keteladanan, kepemimpinan, dan semangat perjuangan yang terus menjadi inspirasi
bagi TNI hingga saat ini.”
Menurut Catur, sosok Jenderal
Sudirman sengaja diangkat sebagai tema utama karena relevansinya yang tak
lekang oleh waktu. Di saat TNI terus berkembang dengan teknologi canggih, figur
Sudirman menjadi pengingat akan pentingnya karakter, integritas, dan pengorbanan
tanpa batas bagi seorang prajurit.
“Antusiasme masyarakat cukup
tinggi. Banyak yang penasaran, termasuk anak-anak muda. Mereka terinspirasi
dengan kisah Jenderal Sudirman, bagaimana beliau memimpin perang gerilya meski
dalam kondisi sakit parah dengan satu paru-paru,” lanjutnya. Kisah heroik
itulah yang ingin mereka tanamkan kembali, bahwa keterbatasan fisik bukanlah
penghalang untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa.
Pandangan kemudian beralih pada
meriam tua yang menjadi pusat perhatian di sudut posko. Sersan Mayor Suriya
menjelaskan dengan rinci signifikansi dari artefak tersebut.
“Betul. Salah satu yang kami
tampilkan adalah meriam bersejarah ini,” ujar Suriya sambil menunjuk senjata
peninggalan masa lalu itu. “Senjata ini pernah digunakan pada masa-masa awal
perjuangan kemerdekaan. Kehadirannya mengingatkan kita bahwa dulu dengan segala
keterbatasan, para pejuang tetap berjuang dengan gagah berani mempertahankan
kedaulatan Indonesia.”
Sebuah meriam bersejarah dipamerkan di posko sejarah TNI pada rangkaian acara HUT ke-80 TNI di Monas, Jakarta, Minggu (21/9/2025). (Foto: dokumentasi pribadi).
Meriam itu lebih dari sekadar
pajangan. Ia adalah monumen dari semangat “merdeka atau mati” yang berkobar di
dada para pejuang. Di saat persenjataan modern belum dimiliki, senjata-senjata
hasil rampasan atau rakitan sendiri menjadi tumpuan harapan. Inilah bukti nyata
bahwa kekuatan sebuah angkatan bersenjata tidak hanya terletak pada kecanggihan
teknologinya, tetapi pada mental dan semangat juang prajuritnya.
Ketika ditanya mengenai pesan
yang ingin disampaikan kepada generasi muda melalui pameran ini, Suriya
memberikan jawaban yang lugas dan mendalam.
“Pesan kami sederhana: jangan
melupakan sejarah,” tegasnya. “Semangat Jenderal Sudirman dan pengorbanan para
pejuang harus menjadi teladan dalam menjaga persatuan, disiplin, dan cinta
tanah air. Teknologi boleh berubah, tapi nilai perjuangan tetap abadi.”
Di era digital di mana informasi
serba instan dan hiburan visual mendominasi, posko sejarah seperti ini menjadi
pengingat yang esensial. Ia mengajak generasi milenial dan Gen Z untuk berhenti
sejenak dari dunia maya dan menyentuh langsung artefak sejarah, mendengarkan
cerita dari para pelaku sejarah, dan meresapi nilai-nilai yang terkandung di
dalamnya.
Menutup perbincangan, kedua
sersan mayor itu berbagi harapan mereka untuk institusi yang mereka cintai di
usianya yang ke-80.
“Semoga TNI semakin profesional,
modern, dan tetap menjadi kebanggaan rakyat Indonesia,” ucap Catur penuh harap.
“Dan semoga TNI selalu setia
menjaga kedaulatan NKRI, dengan semangat pengabdian tanpa pamrih seperti yang
dicontohkan oleh Jenderal Sudirman,” timpal Suriya, melengkapi pernyataan
rekannya.
Posko Pusat Sejarah TNI di Monas
mungkin tidak semegah panggung utama atau semeriah pameran alutsista. Namun, di
sinilah jantung dan jiwa TNI berada. Di tempat ini, kisah-kisah heroisme masa
lalu diwariskan, memastikan bahwa semangat para pahlawan akan terus hidup dan
menginspirasi generasi prajurit di masa kini dan masa depan.
إرسال تعليق