Rahma Khoirunnisa, mengenakan gaun putih sebagai penyedia jasa foto manekin. (Foto: dokumentasi pribadi).
Jakarta – Di antara riuh
rendahnya pengunjung yang memadati pelataran Taman Fatahillah, sesosok figur
anggun berdiri dengan senyum yang tak lekang oleh waktu. Ia adalah Rahma
Khoirunnisa, seorang "manekin hidup" yang menjadi salah satu daya
tarik visual di Kawasan Kota Tua. Bagi para wisatawan, ia adalah objek foto
yang indah. Namun, di balik riasan tebal dan kostum yang menawan, tersimpan
kisah perjuangan seorang pekerja, mahasiswi, dan seniman jalanan yang melakoni
tiga peran sekaligus demi meraih cita-citanya.
Kisah Rahma adalah potret
kegigihan generasi muda urban yang menavigasi kerasnya tuntutan hidup di ibu
kota. Setiap akhir pekan, ia menanggalkan identitasnya sebagai karyawati dan
mahasiswi untuk bertransformasi menjadi kanvas hidup yang menghibur ribuan
pasang mata.
Dorongan Ekonomi dan Panggilan
Kreatif
Pilihan Rahma untuk menjadi
manekin foto bukanlah panggilan jiwa sejak awal, melainkan sebuah respons
cerdas terhadap realitas ekonomi. "Awalnya saya nggak pernah
kepikiran," ujarnya saat rehat sejenak dari posenya. "Tapi karena
biaya hidup sekarang cukup mahal, saya butuh uang tambahan buat kuliah dan
kebutuhan sehari-hari."
Seperti banyak anak muda lainnya,
pintu menuju profesi ini terbuka melalui seorang teman. Ajakan yang semula
iseng ternyata menjadi jawaban atas kebutuhannya. "Eh ternyata lumayan,
bisa ketemu banyak orang juga," tambahnya. Menurut sebuah studi tentang
tren kerja generasi muda, banyak mahasiswa, terutama yang mengambil kelas
karyawan, terdorong untuk memiliki pekerjaan sampingan (side hustle)
untuk mencapai kemandirian finansial dan meringankan beban orang tua. Rahma
adalah representasi nyata dari fenomena ini.
Ia harus pintar membagi waktu.
"Saya kuliah kelas karyawan di salah satu kampus di Jakarta. Jadi pagi
sampai sore biasanya kerja kantoran, malam kuliah. Karena itu, saya cuma bisa
ambil kerjaan manekin foto ini pas weekend atau hari libur," jelasnya.
Rutinitas Padat Seorang
Pejuang Muda
Jadwal mingguan Rahma adalah
cerminan dari dedikasi dan staminanya yang luar biasa. Dari Senin hingga Jumat,
paginya dihabiskan di kantor, dan malamnya di bangku kuliah. Akhir pekan, yang
bagi banyak orang adalah waktu istirahat, justru menjadi ladang baginya untuk
mencari tambahan pundi-pundi rupiah.
"Pagi saya siapin kostum
sama properti, berangkat dari Bekasi ke Kota Tua, terus kerja pose jadi manekin
sampai sore. Pulangnya biasanya capek banget," tuturnya. Dari profesi ini,
Rahma bisa mengantongi antara Rp100 ribu hingga Rp300 ribu per hari. Dikutip
dari data kunjungan wisata, jumlah pengunjung Kota Tua pada akhir pekan
bisa melonjak drastis, yang secara langsung memengaruhi pendapatan para pekerja
kreatif informal seperti Rahma.
"Orang tua saya memang masih
bantu, tapi nggak bisa full karena kebutuhan banyak. Jadi untuk uang kuliah,
transportasi, sama keperluan pribadi, saya harus cari tambahan," katanya
jujur.
Lebih dari Sekadar Rupiah
Meski lahir dari kebutuhan
ekonomi, profesi sebagai manekin hidup memberikan Rahma sesuatu yang lebih dari
sekadar uang. Ia menemukan kebahagiaan dalam interaksi dan apresiasi yang ia
terima dari para pengunjung. Pekerjaan yang menuntutnya diam berjam-jam justru
membuka ruang dialog yang unik dengan banyak orang.
"Selain dapat uang tambahan,
saya seneng bisa jadi hiburan buat orang-orang yang datang ke Kota Tua,"
ungkapnya dengan mata berbinar. "Ada aja yang lucu, kadang pengunjung
minta pose aneh-aneh, kadang ada juga yang ngajak ngobrol lama. Jadi nggak cuma
kerja, tapi juga pengalaman."
Kisah Rahma Khoirunnisa adalah
narasi inspiratif tentang bagaimana keterbatasan dapat diubah menjadi peluang.
Ia membuktikan bahwa tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil jika dijalani
dengan niat yang besar. Di balik senyumnya sebagai manekin, terpancar kekuatan
seorang perempuan muda yang tidak hanya pasrah pada keadaan, tetapi aktif
membentuk takdirnya sendiri, satu pose demi satu pose, di tengah panggung
sejarah Jakarta.
إرسال تعليق