Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta, yang dahulu dikenal sebagai Stadhuis atau Balai Kota Batavia. (Foto: dokumentasi pribadi).
Kota Tua Jakarta, atau yang juga dikenal dengan sebutan Batavia
Lama (Oud Batavia), merupakan kawasan bersejarah yang terletak di Jakarta
Utara dan Jakarta Barat, meliputi wilayah Pinangsia, Taman Sari, dan Roa
Malaka. Kawasan ini memiliki luas sekitar 1,3 kilometer persegi dan sejak lama
menjadi saksi perjalanan panjang Jakarta dari masa kolonial hingga kini.
Dilansir dari Wikipedia, pada abad ke-16, kawasan ini
dijuluki sebagai “Permata Asia” dan “Ratu dari Timur” oleh para
pelayar Eropa karena letaknya yang strategis serta kekayaan sumber daya yang
dimilikinya. Hal ini menjadikan Batavia sebagai salah satu pusat perdagangan
penting di Asia.
Dari Sunda Kelapa hingga Batavia
Sejarah Kota Tua bermula pada tahun 1526, ketika Fatahillah
dari Kesultanan Demak menyerang pelabuhan Sunda Kelapa yang saat itu dikuasai
Kerajaan Pajajaran. Pelabuhan tersebut kemudian berganti nama menjadi Jayakarta.
Namun, pada tahun 1619, VOC (Vereenigde Oostindische
Compagnie) di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen menghancurkan
Jayakarta. Setahun kemudian, VOC mendirikan kota baru bernama Batavia,
sebagai penghormatan terhadap Batavieren, leluhur bangsa Belanda. Batavia
berkembang dengan tata kota khas Eropa, lengkap dengan benteng (Kasteel
Batavia), dinding kota, dan kanal-kanal yang membagi kawasan menjadi blok-blok
teratur.
Pembangunan Batavia selesai pada tahun 1650, dan sejak itu
menjadi kantor pusat VOC di Hindia Timur. Akan tetapi, buruknya sistem sanitasi
memicu munculnya wabah tropis yang menyerang penduduk. Kondisi ini membuat kota
meluas ke arah selatan hingga kawasan Weltevreden (kini sekitar Lapangan
Merdeka), terutama setelah wabah besar pada tahun 1835 dan 1870.
Memasuki masa pendudukan Jepang pada tahun 1942, nama
Batavia resmi diganti menjadi Jakarta, yang kemudian ditetapkan sebagai
ibu kota Indonesia hingga saat ini.
Upaya Pelestarian Sejarah
Pada tahun 1972, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin
mengeluarkan dekret yang menetapkan Kota Tua sebagai situs warisan.
Tujuannya adalah melindungi bangunan-bangunan bersejarah yang masih tersisa,
meskipun pada awalnya kawasan ini sempat terabaikan. Seiring waktu, perhatian
pemerintah dan masyarakat terhadap pelestarian Kota Tua semakin meningkat.
Kini, wajah Kota Tua ditata lebih baik. Pemerintah Provinsi
DKI Jakarta dari masa ke masa terus melakukan revitalisasi agar nilai historis
kawasan ini tidak hilang dimakan waktu. Bahkan, beberapa sudut Kota Tua kini
dilengkapi ornamen dan spot foto yang “instagramable”, sehingga menarik minat
generasi muda untuk berkunjung.
Destinasi Wisata Bersejarah
Hingga hari ini, Kota Tua Jakarta menjadi salah satu
destinasi wisata populer yang memadukan nilai sejarah dengan daya tarik modern.
Beberapa bangunan penting yang berada di kawasan ini antara lain:
- Museum
Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta)
- Pelabuhan
Sunda Kelapa
- Museum
Bank Indonesia
- Museum
Seni Rupa & Keramik
- Toko
Merah
Bangunan-bangunan tersebut tidak hanya memiliki nilai arsitektur kolonial yang tinggi, tetapi juga menyimpan kisah perjalanan panjang Jakarta dari masa ke masa.
Kota Tua Jakarta bukan sekadar kawasan wisata,
melainkan jejak hidup sejarah Batavia yang hingga kini masih bisa
dinikmati. Dari sebuah pelabuhan kecil bernama Sunda Kelapa, berkembang menjadi
Batavia yang megah, lalu berubah menjadi Jakarta yang kita kenal sekarang, Kota
Tua adalah simbol perjalanan panjang ibu kota.
إرسال تعليق