Jakarta – Di tengah riuh
rendahnya kawasan Kota Tua pada Minggu siang yang terik, sesosok perempuan
anggun dalam balutan gaun merah menyala mencuri perhatian. Duduk dengan tenang
di bawah lengkungan bunga artifisial berwarna merah muda, ia tampak seperti
seorang putri yang keluar dari negeri dongeng. Sosok itu adalah Luvena
Isabella, salah satu "manekin hidup" yang menawarkan pesonanya
sebagai objek foto bagi ribuan pengunjung.
Namun, di balik senyumnya yang
tak pernah pudar dan gaunnya yang megah, tersimpan kisah perjuangan seorang
mahasiswi yang gigih. Bagi Luvena, profesi ini bukan sekadar ajang ekspresi
diri, melainkan sebuah jembatan untuk meraih mimpinya di tengah tingginya biaya
hidup di ibu kota.
Dari Kampus ke Pelataran
Sejarah
Berbeda dari beberapa seniman
jalanan lain yang menjadikan profesi ini sebagai mata pencaharian utama, bagi
Luvena ini adalah sebuah pekerjaan sampingan. Sehari-hari, ia adalah seorang
mahasiswi kelas karyawan di Bekasi. "Sebenarnya ini bukan pekerjaan utama
saya," ujarnya membuka percakapan. "Tapi karena biaya hidup sekarang
cukup mahal, saya butuh tambahan penghasilan."
Perjalanannya menjadi manekin
foto dimulai dari ajakan seorang teman. Ia yang awalnya ragu, memutuskan untuk
mencoba. "Ternyata menyenangkan juga, jadi saya jalani sampai
sekarang," katanya. Menurut sebuah pengamatan tentang fenomena pekerja kreatif
temporer, banyak mahasiswa dan pekerja muda seperti Luvena memanfaatkan akhir
pekan untuk pekerjaan sampingan di ruang publik, didorong oleh kebutuhan
ekonomi dan fleksibilitas waktu. Luvena hanya tampil pada hari Sabtu, Minggu,
atau hari libur nasional, saat Kota Tua mencapai puncak keramaiannya.
Dukungan keluarga menjadi salah
satu modal penting baginya. "Awalnya agak kaget, karena tidak biasa. Tapi
setelah saya jelaskan kalau ini untuk menambah uang jajan dan bayar kebutuhan
kuliah, mereka akhirnya mendukung," kenang Luvena.
Kreativitas di Balik Kostum
Menawan
Daya tarik utama para manekin
hidup adalah kostum mereka yang unik dan memukau. Luvena menaruh perhatian
besar pada setiap detail penampilannya. Gaun merah yang ia kenakan, payung
kertas khas oriental, hingga properti bunga di sekelilingnya adalah hasil dari
kreativitasnya. "Sebagian saya siapkan sendiri, ada juga yang saya sewa
atau beli bahan lalu modifikasi. Saya senang bereksperimen dengan kostum, jadi
bisa sekalian menyalurkan hobi," jelasnya.
Penghasilan yang didapat tidak
menentu, sangat bergantung pada jumlah dan kemurahan hati pengunjung. Dikutip
dari pemberitaan media lokal mengenai pariwisata Jakarta, kawasan Kota Tua bisa
menarik puluhan ribu pengunjung di akhir pekan. Peluang inilah yang
dimanfaatkan oleh Luvena. "Kadang bisa lumayan, kadang pas-pasan. Tapi
setidaknya cukup membantu untuk bayar uang kuliah dan kebutuhan
sehari-hari," ujarnya bersyukur.
Namun, di balik rupiah yang
terkumpul, ada tantangan yang harus dihadapi. "Tantangannya ya harus kuat
berdiri lama, tetap tersenyum walau capek, dan menghadapi cuaca panas,"
katanya. Selain itu, interaksi dengan pengunjung yang beragam juga menjadi
ujian kesabaran tersendiri.
Langkah Sampingan Menuju
Cita-Cita
Meskipun profesi ini memberinya
pengalaman dan penghasilan yang berharga, Luvena memandangnya sebagai sebuah
batu loncatan, bukan tujuan akhir. Cita-cita utamanya tetap pada pendidikannya.
"Kalau untuk jangka panjang, mungkin tidak. Saya ingin fokus menyelesaikan
kuliah dulu dan mencari pekerjaan yang sesuai bidang saya," tegasnya.
Bagi Luvena, menjadi manekin foto
adalah cara cerdas untuk bertahan dan berjuang selagi ia menempuh pendidikan.
Di akhir perbincangan, ia membagikan pesannya untuk anak muda lain yang berada
dalam situasi serupa. "Jangan malu untuk mencoba pekerjaan apa pun,
asalkan halal. Kita harus kreatif dan berani, karena kebutuhan hidup makin
tinggi. Kadang dari pekerjaan kecil justru bisa belajar banyak hal."
Setelah wawancara usai, Luvena
kembali ke posisinya. Senyumnya kembali mengembang, tatapannya menyambut ramah
setiap pengunjung yang lewat. Gaun merahnya berkilau di bawah matahari, menjadi
simbol dari semangat, kerja keras, dan optimisme seorang anak muda yang melukis
sendiri jalan menuju masa depannya di pelataran sejarah Jakarta.
ini di sebelah mana mint?
ReplyDeletePost a Comment