Arif Nurman Hakim, seorang seniman patung jalanan yang berkostum tantara. (Foto: dokumentasi pribadi).
Jakarta – Di bawah terik
matahari Sabtu sore, hiruk pikuk ribuan pengunjung di Taman Fatahillah, Kawasan
Kota Tua Jakarta, seakan menjadi panggung raksasa. Di tengah keramaian itu,
sesosok figur berwarna perunggu berdiri kaku, nyaris tak berkedip, di samping
sepeda ontel yang telah dihias sedemikian rupa. Ia adalah Arif Nurman Hakim,
salah satu dari sekian banyak seniman jalanan yang menghidupkan kembali suasana
Batavia lama dengan cara yang unik: menjadi patung hidup.
Namun, di balik diamnya yang
memukau, tersimpan sebuah kisah tentang kegigihan, kreativitas, dan perjuangan
seorang anak muda dalam kerasnya persaingan mencari kerja di ibu kota. Figurnya
yang beku adalah simbol dari semangat yang tak pernah padam.
Berawal dari Pintu yang
Tertutup
Bagi banyak orang, menjadi patung
hidup mungkin terdengar seperti pilihan karier yang tidak biasa. Namun bagi
Arif, ini adalah jalan yang ia temukan ketika pintu-pintu lain seakan tertutup
rapat. "Sebenarnya saya terjun ke profesi ini karena sulitnya lapangan
pekerjaan," ungkap Arif saat ditemui di sela-sela penampilannya. Raut
wajahnya yang tadinya kaku kini mengendur, menampilkan senyum ramah seorang
pemuda berusia awal dua puluhan.
"Setelah lulus SMA, saya
sempat melamar ke beberapa perusahaan, tapi tidak ada yang cocok atau diterima.
Akhirnya saya mencoba mencari cara lain untuk tetap bisa dapat penghasilan,
sampai akhirnya memilih profesi ini," tuturnya. Pilihan ini bukanlah
sebuah keputusasaan, melainkan sebuah langkah sadar untuk mengambil kendali
atas nasibnya sendiri. Dilansir dari sebuah studi sosial tentang pekerja
kreatif urban, fenomena seperti yang dialami Arif merupakan cerminan dari
kemampuan adaptasi generasi muda terhadap tantangan ekonomi dengan memanfaatkan
ruang publik sebagai medium ekspresi dan sumber pendapatan.
Arif tidak bekerja setiap hari.
Ia memilih akhir pekan, Sabtu dan Minggu, sebagai waktunya untuk
"bertugas". "Saat itulah Kota Tua ramai pengunjung,"
jelasnya. Keputusan ini menunjukkan strateginya dalam memaksimalkan potensi
pendapatan di waktu yang paling efektif.
Totalitas dari Tangan Sendiri
Salah satu hal yang paling
mengagumkan dari penampilan Arif adalah kostum dan propertinya. Semua detail,
mulai dari cat yang melapisi tubuhnya, pakaian bergaya pejuang kemerdekaan,
hingga sepeda ontel yang dihias bunga, adalah hasil karyanya sendiri. "Semua
kostum saya bikin sendiri, begitu juga dengan properti sepeda yang saya bawa
ini. Saya beli bahan seadanya, lalu saya kreasikan agar bisa jadi karakter
unik," katanya dengan bangga.
Ia merangkai cat, kain, dan
aksesori kecil menjadi sebuah identitas yang menarik perhatian. Proses kreatif
ini memberinya kepuasan yang tak ternilai, terutama saat melihat decak kagum di
wajah para pengunjung yang berhenti untuk berfoto. Menurut pengamat seni
jalanan, totalitas dalam menciptakan kostum dan karakter inilah yang
membedakan seniman profesional dengan yang sekadar ikut-ikutan. Dedikasi Arif
dalam menciptakan karyanya dari nol menunjukkan keseriusannya dalam profesi
yang ia geluti.
Namun, di balik penampilan yang
memesona, ada tantangan yang tidak terlihat oleh mata pengunjung.
"Tantangan paling besar adalah panas dan hujan. Kalau panas, harus tahan
berdiri lama dengan make-up dan kostum tebal. Kalau hujan, otomatis saya tidak
bisa tampil karena kostum bisa rusak," keluhnya. Selain cuaca, tantangan
sosial juga kerap ia hadapi. Terkadang ada pengunjung yang mengambil foto
secara diam-diam atau meminta berfoto bersama namun enggan memberikan apresiasi
seikhlasnya.
Asa, Cita, dan Pesan Sederhana
Meskipun penghasilannya tidak
menentu, Arif mensyukurinya. "Alhamdulillah, cukup untuk jajan, bantu
orang tua sedikit, dan nabung buat biaya kebutuhan pribadi," ujarnya. Saat
ini, ia masih tinggal bersama orang tuanya, sebuah kondisi yang sedikit
meringankan beban finansialnya, namun tak mengurangi tekadnya untuk mandiri. Dikutip
dari data pengelola kawasan wisata, jumlah pengunjung Kota Tua pada akhir
pekan bisa mencapai puluhan ribu orang, yang menjadi ceruk rezeki bagi ratusan
seniman dan pedagang seperti Arif.
Di dalam diamnya saat berpose,
Arif menyimpan mimpi yang besar. Ia tidak ingin selamanya menjadi seniman
jalanan individu. "Saya berharap bisa mengembangkan profesi ini jadi lebih
profesional, misalnya dengan punya tim, kostum yang lebih banyak, bahkan bisa
tampil di event-event besar," ungkapnya penuh harap. Lebih jauh lagi,
kecintaannya pada proses kreatif mendorongnya untuk bermimpi memiliki usaha
sendiri. "Saya juga ingin membuka usaha kecil di bidang seni, karena saya
suka membuat kostum dan properti."
Di akhir perbincangan, Arif
membagikan pesan sederhana yang lahir dari pengalaman hidupnya, sebuah pesan
yang relevan bagi banyak anak muda yang mungkin merasakan perjuangan serupa.
"Jangan cepat menyerah. Kalau satu pintu rezeki tertutup, pasti ada jalan
lain yang terbuka. Yang penting kita mau kreatif, berusaha, dan jangan
gengsi."
Post a Comment