Dalam
beberapa hari terakhir, pemandangan antrean panjang dan kerumunan pelamar kerja
di berbagai acara job fair jadi hal yang lumrah. Ribuan orang hadir dengan
semangat dan harapan, namun tak sedikit yang pulang dengan wajah muram dan
kecewa. Bagi sebagian orang, gagal mendapat panggilan kerja seolah menjadi
vonis kegagalan dalam hidup.
Sebuah
video di media sosial sempat mencuri perhatian saya hari ini. Isinya tentang
nasihat agar tidak terlalu percaya dengan rahasia orang sukses. Kalau ingin
bercanda, saya akan bilang: tentu saja kita tidak boleh percaya, karena kalau
sudah dibocorkan, itu bukan rahasia lagi. Tapi di balik candaan itu, ada
kenyataan yang lebih dalam: kita terlalu sering merayakan kisah sukses, dan
lupa mempelajari bagaimana orang bangkit dari kegagalan.
Namanya
Pak Heru. Usianya 34 tahun, tapi raut lelah di wajahnya bisa membuat orang
mengira usianya jauh lebih tua. Sudah lima kali ia mengikuti job fair
sejak tahun lalu, dan lima kali pula ia pulang tanpa hasil. “Mungkin karena
ijazah saya cuma SMA ya, Mas,” ujarnya pelan.
Saat
ini, ia bekerja sebagai ojek online. Motor bebek tua berwarna hitam yang kini
tampak kusam dan ringkih, menjadi satu-satunya alat untuk mencari nafkah. “Dari
dulu saya pakai ini, dari sebelum nikah,” katanya sambil tersenyum kecil. Tapi
senyumnya cepat pudar saat ia menceritakan kondisi ekonominya.
Dengan
dua anak yang masih kecil dan kebutuhan yang terus naik, penghasilan sebagai
ojek online seringkali tak cukup. “Susu anak naik, beras naik, listrik juga.
Saya udah coba cari tambahan, tapi dunia kayaknya nolak saya terus,” katanya,
kali ini dengan suara bergetar.
Ia
juga menyampaikan kekecewaannya pada situasi yang lebih besar. Korupsi, harga
BBM, dan kebijakan pemerintah yang menurutnya tidak berpihak pada rakyat kecil.
“Saya pakai pertamax itu bukan karena kaya, Mas. Tapi biar motor ini nggak
cepet rusak. Kalau rusak, saya nggak bisa kerja lagi.”
Di
balik perjuangannya, ada sosok yang selalu mendukungnya diam-diam: istrinya.
Seorang perempuan sederhana yang katanya tak pernah mengeluh, meski dapur
kadang tak sempat mengepul. Sang istri ikut membantu dengan memasak di rumah
orang agar bisa menambah pemasukan. Ketika saya bertanya, “Capek nggak, Pak?”
Ia hanya tertawa kecil dan menjawab, “Capek sih, Mas. Tapi untungnya saya punya
istri yang baik banget.”
Gagal
adalah kata yang menakutkan bagi banyak orang. Tapi seperti Pak Heru, gagal tak
harus menjadi akhir. Ia bisa menjadi titik balik, tempat kita berhenti sejenak
untuk berpikir ulang, memperbaiki langkah, lalu berjalan lagi meski perlahan.
Sukses
tidak pernah memiliki rumus yang mutlak. Tips dan rahasia sukses yang beredar
di buku atau media sosial sering kali tak menceritakan sisi gelap perjalanan
seseorang. Sementara kegagalan, meski menyakitkan, justru mengajarkan ketekunan
dan ketabahan yang jarang kita sadari.
“Mungkin
bukan sekarang rejekinya, Mas,” kata Pak Heru di akhir perbincangan kami.
Kalimat itu bukan pelarian, tapi wujud ketegaran seseorang yang menolak
menyerah pada hidup.
Karena
sejatinya, makna kegagalan bukan tentang jatuh. Tapi tentang keberanian untuk
tetap bangkit dan mencoba lagi.
Post a Comment