Pedagang Kecil, Tanggung Jawab Besar: Kisah Ibu Rukmini

 


Rukmini, seorang pedagang sayur yang sedang memandangi dagangannya. (Foto: Dokumentasi Pribadi).


Mentari bahkan belum berani menampakkan sinarnya di ufuk timur Jakarta. Namun, di salah satu sudut Pasar Lenteng Agung yang lantainya masih basah oleh sisa embun malam, kehidupan sudah menggeliat dengan cepat. Di tengah hiruk pikuk pedagang lain dan lalu lalang pembeli, duduk seorang perempuan paruh baya di balik lapak sederhana. Tangannya dengan cekatan menata tumpukan ikan asin yang menguarkan aroma khas, sebuah aroma yang telah menjadi napas hidupnya. Dia adalah Ibu Rukmini, salah satu potret pejuang ekonomi akar rumput yang kisahnya seringkali luput dari perhatian.

Setiap hari, saat sebagian besar kota masih terlelap, alarm biologis Ibu Rukmini sudah berdering. Pukul empat pagi, ia sudah harus berada di lapaknya, siap menyambut pelanggan pertama. Ini bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan untuk bertahan hidup di ibu kota yang tak pernah tidur.

“Benar sekali, Mas. Harus. Di sini itu hitungannya menit,” ujarnya sambil tersenyum tipis saat ditemui di sela kesibukannya. “Kalau telat 30 menit saja rasanya sudah seperti kehilangan uang 50 ribu. Pelanggan saya yang pedagang sayur keliling dan warung nasi kan belanjanya subuh-subuh begini. Kalau saya kesiangan, mereka belanja di tempat lain.”

Kalimat itu bukan keluhan, melainkan sebuah pernyataan fakta dari medan pertempuran hariannya. Logika ekonomi mikro di pasar tradisional memang setajam itu. Keterlambatan bukan hanya soal waktu, tetapi soal rupiah yang hilang, soal kesempatan yang direbut pesaing. Pasar yang selalu ramai pembeli, seperti yang pernah diulas dalam sebuah laporan di Kumparan, menjadi arena di mana setiap pedagang harus gesit dan disiplin jika tidak ingin tertinggal.

Di balik semangatnya yang membara untuk memulai hari sebelum fajar, ada beban tanggung jawab yang dipikulnya dengan tabah. Ketika ditanya apa yang mendorongnya bekerja sekeras itu, matanya menerawang sejenak, menembus tumpukan ikan teri di hadapannya.

“Ya buat siapa lagi, Mas. Buat keluarga,” jawabnya pelan. “Anak saya tiga, masih sekolah semua. Yang paling besar sebentar lagi mau masuk SMA, biayanya kan tidak sedikit. Suami kerjanya serabutan, jadi saya yang jadi tumpuan utama.”

Beban itu tidak berhenti di keluarga intinya. Sebagai seorang anak, ia masih merasa punya kewajiban. “Belum lagi, saya masih harus kirim sedikit-sedikit untuk ibu saya di kampung. Tanggungan banyak, Mas,” lanjutnya.

Namun, perjuangannya tidak hanya melawan waktu dan rasa kantuk. Ia juga harus berhadapan dengan ketidakpastian ekonomi yang terus menghimpit. Harga modal belanja atau kulakan menjadi momok yang harus dihadapi setiap hari.

“Stabil bagaimana, Mas? Harga kulakan itu naik terus, apalagi kalau cuaca sedang jelek, nelayan susah melaut. Harga ikan asin jadi ikut mahal,” keluhnya. Dilema pun muncul. Di satu sisi, modal membengkak. Di sisi lain, menaikkan harga jual adalah risiko besar. “Tapi kalau kita naikin harga jual ke pelanggan, mereka langsung mengeluh. Jadinya untung kita yang makin tipis. Pintar-pintar kita saja memutarnya.”

Dalam himpitan seperti ini, harapan akan adanya uluran tangan dari pemerintah menjadi sesuatu yang terasa jauh. Ibu Rukmini tersenyum kecut saat disinggung soal bantuan untuk pedagang kecil. Baginya, program-program yang terdengar indah di media seringkali sulit dijangkau oleh orang sepertinya.

“Katanya ada bantuan modal usaha, pinjaman lunak, tapi syaratnya buat kami ini ribet sekali. Harus ada surat ini-itu, jaminan, kami mana punya?” tanyanya retoris. Birokrasi yang rumit menjadi tembok tebal yang menghalangi mereka mengakses fasilitas yang seharusnya menjadi hak mereka.

Perasaan ditinggalkan itu semakin terasa ketika ia melihat kondisi tempatnya mencari nafkah. “Jangankan bantuan modal, Mas. Perbaikan pasar saja seadanya. Lihat saja ini becek, kalau hujan atap banyak yang bocor,” katanya sambil menunjuk ke sekeliling. Ia dan pedagang lainnya merasa seringkali dilupakan, dan hanya diingat saat momen politik seperti pemilu tiba, di mana janji-janji manis diobral dengan mudah.

“Kami tidak minta yang muluk-muluk, kok,” tegasnya. “Cukup sediakan kami tempat yang layak, akses modal yang dipermudah dan tidak njilimet (rumit), itu saja sudah sangat membantu kami untuk bisa bertahan.”

Di tengah semua realita pahit itu, sebuah pertanyaan tentang harapan terbesarnya seolah membuka katup emosi yang selama ini ia pendam. Setelah sejenak melayani pembeli, ia kembali menatap pewawancara, kali ini dengan sorot mata yang lebih lembut.

“Harapan saya sederhana, Mas. Saya cuma ingin anak-anak saya bisa sekolah setinggi-tingginya, jangan sampai nasibnya seperti saya,” ucapnya, suaranya bergetar menahan haru. “Biar saya yang merasakan capeknya, yang penting mereka punya masa depan lebih baik. Selama saya masih diberi sehat, saya akan terus jualan di sini.”

Baginya, semua peluh dan lelah seolah lunas terbayar saat melihat anak-anaknya bisa jajan dan membayar uang sekolah tanpa kendala. Itulah bahan bakar utama yang membuatnya mampu untuk kembali bangun di kegelapan pagi, setiap hari. Kisah Ibu Rukmini adalah cerminan dari jutaan pejuang keluarga di sudut-sudut pasar di seluruh Indonesia. Mereka mungkin tak terlihat dalam statistik ekonomi makro, namun dari lapak merekalah asa untuk generasi mendatang dirawat dan diperjuangkan.


0 Comments

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post