Jakarta – Beberapa waktu
lalu, dunia maya dihebohkan oleh sebuah video yang menampilkan pesulap legendaris,
Pak Tarno, tengah duduk di kawasan Kota Tua dengan alat bantu jalan di sisinya.
Sontak, narasi liar berkembang yang menyebut sang "Master of Traditional
Magic" itu kini jatuh miskin hingga harus mengemis. Namun, di balik
potongan video yang viral itu, tersimpan sebuah cerita yang jauh berbeda;
sebuah kisah tentang rekreasi keluarga, perjuangan melawan sakit, dan semangat
hidup yang tak pernah padam.
Saat ditemui bersama istrinya,
Dewi, di kediamannya, Pak Tarno dengan tegas membantah tudingan miring
tersebut. Raut wajahnya yang kini dihiasi guratan usia tampak tenang, meski
menyimpan jejak perjalanan hidup yang penuh liku.
Piknik Keluarga yang
Disalahartikan
Kabar yang menyebutnya mengemis
adalah sebuah kesalahpahaman besar. Pak Tarno dan istrinya menjelaskan bahwa
kehadiran mereka di Kota Tua saat itu murni untuk berekreasi. "Ah, itu
salah paham. Saya waktu itu cuma piknik sama istri. Bawa nasi, bawa termos,
bawa makanan," jelas Pak Tarno dengan logat khasnya.
Ia menceritakan, popularitasnya
membuat banyak pengunjung yang mengenalinya langsung meminta untuk berfoto
bersama. Sebagai seorang penghibur sejati, ia dengan senang hati melayani
permintaan tersebut. "Sama sekali nggak [mengemis]. Saya mah main aja.
Kalau ada yang kasih uang setelah foto bareng, ya saya terima. Lumayan buat
berobat. Tapi saya nggak pernah minta," tegasnya.
Istrinya, Dewi, menambahkan
betapa narasi keliru di media sosial berdampak pada mereka. "Betul, banyak
netizen salah paham. Sampai saya harus matiin kolom komentar di TikTok. Padahal
kami cuma piknik, bukan ngemis," ujar Dewi.
Perjuangan Melawan Stroke dan
Pukulan Masa Lalu
Di balik senyum dan gayanya yang
jenaka, Pak Tarno saat ini tengah berjuang memulihkan kesehatannya. Menurut
penuturan sang istri, Pak Tarno sedang dalam masa pemulihan pasca-terserang
stroke ringan. Inilah alasan mengapa ia terkadang membutuhkan alat bantu jalan
atau kursi roda. "Tapi sekarang rutin terapi, tiap pagi berjemur, jaga
pola makan. Kondisinya pelan-pelan membaik," kata Dewi.
Bagi Pak Tarno, berdiam diri di
rumah justru membuatnya stres. Dorongan untuk bertemu dan berinteraksi dengan
banyak orang menjadi terapi tersendiri baginya. "Walau sakit, saya nggak
bisa diem di rumah. Seneng kalau ketemu banyak orang. Kalau sendirian malah
stres," ungkapnya. Semangat inilah yang membuatnya tetap ingin keluar
rumah, bergerak, dan bertemu para penggemarnya.
Perjuangan Pak Tarno tidak hanya
soal kesehatan. Dilansir dari berbagai pemberitaan media beberapa tahun lalu,
Pak Tarno pernah mengalami pukulan finansial yang berat akibat ditipu oleh
mantan manajernya. Uang hasil jerih payahnya sebesar Rp100 juta raib
digelapkan. "Iya, betul. Saya pernah ketipu. Katanya buat beli mobil. Eh,
uangnya malah digelapkan," kenangnya dengan nada pasrah. Meski berat, ia
memilih untuk tidak larut dalam kesedihan dan terus melangkah maju.
Dari Panggung Sulap ke Toko
Mainan
Untuk memenuhi kebutuhan hidup
dan biaya pengobatan, Pak Tarno kini beralih profesi menjadi pedagang mainan di
rumahnya. Jauh dari citra panggung yang gemerlap, ia menemukan sumber rezeki
baru yang tak kalah membahagiakan. "Saya masih dagang mainan di rumah.
Dagangannya rame terus, alhamdulillah," katanya penuh syukur.
Meskipun tak lagi rutin tampil di
televisi, jiwa penghiburnya tidak pernah luntur. Harapan terbesarnya saat ini
sangatlah sederhana, namun begitu mendalam. "Sehat. Bisa terus main sulap
lagi, ketemu penonton, bikin orang ketawa. Itu jadi energi buat saya,"
ujarnya.
Dikutip dari wawancara ini,
jelas bahwa di balik figurnya yang lucu dengan jargon "dibantu ya, bim
salabim jadi apa, prok prok prok," Pak Tarno adalah seorang pejuang
sejati. Ia mengajarkan bahwa roda kehidupan boleh berputar, rintangan boleh
datang silih berganti, namun semangat untuk berkarya dan berbagi tawa tidak
boleh sekalipun padam.
Post a Comment