Kesehatan
mental kerap kali menjadi isu yang luput dari perhatian, terutama di kalangan
remaja. Padahal, dalam kehidupan yang semakin kompleks dan kompetitif seperti
sekarang, menjaga kestabilan emosi dan pikiran menjadi hal yang sangat penting.
Banyak remaja yang tampak aktif, produktif, dan ceria di permukaan, namun
sebenarnya menyimpan beban mental yang cukup berat. Sayangnya, tidak semua tahu
bagaimana cara mengatasinya.
Melansir
dari Sehatnegeriku.kemkes.go.id, sebanyak 6,1% penduduk Indonesia
berusia 15 tahun ke atas mengalami gangguan kesehatan mental. Ini bukan angka
yang kecil, terutama jika kita menyadari bahwa kelompok usia tersebut mencakup
para pelajar, mahasiswa, dan pekerja muda yang sedang menghadapi masa-masa
krusial dalam hidupnya. Mereka menghadapi tuntutan akademik, tekanan sosial,
hingga ketidakpastian masa depan, yang semuanya bisa berdampak pada kondisi
mental.
Dalam
sebuah pertemuan google meet pada 12 Oktober lalu (2024), Dr. Khamelia
Malik dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI)
menjelaskan bahwa terdapat paradoks dalam kesehatan remaja. Di satu sisi,
secara fisik mereka berada di fase paling kuat dalam hidup: tubuh sehat, cepat,
dan tangguh. Namun, di sisi lain, angka kesakitan dan kematian meningkat hingga
200% di masa remaja akhir. Penyebab utamanya? Bukan penyakit fisik, melainkan
ketidakmampuan mengelola emosi dan perilaku.
Dr.
Khamelia menambahkan bahwa otak remaja sedang mengalami perkembangan yang tidak
seimbang. Beberapa area otak yang berkaitan dengan dorongan dan emosi
berkembang lebih cepat dibandingkan dengan area otak yang mengatur pengambilan
keputusan dan kontrol diri. Akibatnya, remaja cenderung lebih impulsif, mudah
gelisah, dan kurang mampu mempertimbangkan konsekuensi dari tindakannya. Inilah
yang menyebabkan mereka rentan terhadap gangguan mental.
Kenali
Gangguan Mental yang Sering Muncul
Sebelum
membahas solusi, penting untuk mengenali bentuk-bentuk gangguan kesehatan
mental yang umum terjadi, antara lain:
- Stres, yaitu kondisi ketika
seseorang merasa tertekan secara berlebihan secara emosional maupun
mental. Stres dapat menurunkan motivasi, mengganggu konsentrasi, dan
bahkan berdampak buruk pada kesehatan fisik.
- Gangguan
Kecemasan,
yaitu rasa cemas yang muncul terus-menerus dan tidak proporsional terhadap
situasi. Bagi penderita, rasa cemas bisa datang tanpa alasan yang jelas
dan sulit dikendalikan.
- Depresi, sebuah kondisi gangguan
suasana hati yang menyebabkan seseorang merasa sedih berkepanjangan,
kehilangan semangat hidup, dan mengalami perubahan pola pikir serta
perilaku. Pada tahap tertentu, depresi bisa menyebabkan keinginan
menyakiti diri atau bahkan bunuh diri.
- Psikosis, gangguan yang lebih serius,
ditandai dengan delusi, halusinasi, dan ketidakmampuan membedakan
kenyataan dan imajinasi. Kondisi ini sering kali tidak disadari oleh
penderitanya sendiri.
Melihat
realitas ini, sangat penting bagi setiap individu terutama remaja untuk
memiliki cara sederhana namun konsisten dalam merawat kesehatan mentalnya.
Langkah
Sederhana Menjaga Kesehatan Mental
Menjaga
kesehatan mental tidak harus selalu dimulai dengan terapi atau obat-obatan. Ada
berbagai cara sederhana yang dapat dilakukan setiap hari, antara lain:
1.
Berpikir Positif
Langkah
pertama adalah mengubah cara pandang. Berpikir positif bukan berarti menolak
kenyataan pahit, tetapi berusaha melihat sisi baik dari setiap keadaan.
Menyadari bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan, dan belajar menerima
hal-hal yang di luar kuasa kita, adalah bentuk kedewasaan mental.
Latih
diri dengan membuat jurnal syukur, menulis tiga hal baik yang terjadi setiap
hari. Latihan ini secara perlahan membantu otak fokus pada hal positif dan
meminimalisasi pikiran negatif.
2.
Meditasi dan Mindfulness
Meditasi
tidak perlu rumit. Cukup dengan duduk tenang selama 5–10 menit, menarik napas
dalam-dalam, dan mengamati pikiran tanpa menghakimi. Latihan ini membantu
menurunkan tingkat kecemasan dan meningkatkan kesadaran diri. Mindfulness juga
bisa dilakukan saat berjalan, makan, atau bahkan mencuci piring—dengan cara
penuh perhatian dan tidak terburu-buru.
3.
Aktivitas Fisik atau Olahraga
Tubuh
yang aktif menghasilkan hormon endorfin, yaitu hormon yang membuat kita merasa
bahagia dan rileks. Cobalah berjalan pagi, bersepeda ringan, atau mengikuti
kelas yoga. Tak hanya menjaga tubuh tetap sehat, olahraga juga meningkatkan
kepercayaan diri dan mengurangi stres.
4.
Mengatur Pola Makan
Kesehatan
mental sangat dipengaruhi oleh apa yang kita makan. Kurangi makanan cepat saji
dan tinggi gula, perbanyak konsumsi makanan bergizi seperti sayuran, buah, dan
protein. Otak membutuhkan nutrisi yang baik untuk bekerja secara optimal.
5.
Menghindari Kebiasaan Buruk
Begadang,
mengonsumsi alkohol, merokok, dan terlalu lama menatap layar gadget bisa
memperburuk kesehatan mental. Batasi waktu penggunaan media sosial, dan pilih
konten yang memberi dampak positif. Waktu tidur yang cukup juga sangat penting
untuk regenerasi otak dan tubuh.
Penutup
Kesehatan
mental adalah fondasi dari kebahagiaan dan produktivitas seseorang. Menjaganya
bukanlah sesuatu yang rumit, selama kita konsisten dan peduli terhadap diri
sendiri. Masyarakat, terutama remaja, perlu lebih sadar bahwa merawat mental
sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Tidak harus menunggu sampai
stres atau depresi datang, lakukan pencegahan dengan cara-cara sederhana setiap
hari.
Karena
jiwa yang sehat bukan hanya bebas dari gangguan, tetapi juga mampu menjalani
hidup dengan penuh kesadaran, harapan, dan keseimbangan.
Post a Comment